Fokusmalinau.com – Prosesi adat leeno’ alin waan taman raah masih dijaga masyarakat Dayak Sa’ban di Kabupaten Malinau sebagai ritual penyambutan tamu besar. Tradisi ini menjadi simbol penghormatan sekaligus doa keselamatan bagi tamu yang datang ke wilayah Sa’ban
Prosesi tersebut kembali digelar saat rombongan Panglima Kodam (Pangdam) VI/Mulawarman Mayor Jenderal Krido Pramono tiba di Kabupaten Malinau, Selasa (1/9/2026). Wakil Bupati Malinau Jakaria bersama jajaran Pemerintah Daerah turut menyambut rombongan di Pelabuhan Speedboat Malinau.
Ketua Lembaga Adat Sa’ban Kabupaten Malinau, Johnson Pawang, menjelaskan tradisi ini sudah berlangsung sejak masa lalu, ketika seorang pemimpin kelompok berkunjung ke wilayah kelompok lain. Menurutnya, prosesi tersebut adalah bentuk penghormatan kepada tamu yang dianggap sebagai pemimpin besar.
“Dulu di zaman dulu kan ada pemimpin-pemimpin kelompok masing-masing. Kalau datang berkunjung ke daerah lain, prosesi yang dilakukan biasanya dalam rangka kita menghormati seorang pemimpin besar,” ujar Johnson, Selasa (1/9/2026).
Pantauan di lapangan, prosesi dimulai begitu rombongan tiba di pintu kedatangan pelabuhan. Para tetua adat Dayak Sa’ban berdiri berhadapan dengan rombongan sambil mengenakan pakaian tradisional, diiringi lantunan doa dan harapan keselamatan dalam bahasa Sa’ban.
Seorang tetua adat kemudian mengambil air dari wadah yang dipegang tokoh adat lain menggunakan daun pandan atau lontar, lalu memercikkannya ke arah rombongan. Setelah itu, rombongan dipersilakan melanjutkan perjalanan keluar pintu kedatangan, diiringi tarian perang.
Johnson menjelaskan, percikan air dalam prosesi tersebut memiliki makna simbolis sebagai pembersih jalan yang akan dilalui tamu. “Makna air itu membersihkan jalan tamu yang datang ke daerah kita, supaya aman,” katanya.
Adapun tarian yang mengiringi rombongan, menurut Johnson, menggambarkan sukacita atas kedatangan tamu, bukan simbol permusuhan. Ia menegaskan parang atau pedang yang dibawa penari bukan perlengkapan untuk berperang, melainkan simbol pengamanan suasana selama prosesi berlangsung.
“Tarian itu menandakan sukacita. Kalau pedang-pedang itu artinya bukan untuk berperang. Gambaran berperang, tapi ini sebagai pengaman,” jelasnya.
Setiap unsur dalam leeno’ alin waan taman raah memiliki makna tersendiri: doa sebagai pengharapan keselamatan, percikan air sebagai simbol pembersihan jalan, serta tarian dan perlengkapan perang sebagai lambang sukacita sekaligus pengamanan bagi tamu yang hadir.
Hingga kini, tradisi tersebut terus dipertahankan dalam penyambutan tamu-tamu penting sebagai wujud pemeliharaan adat Dayak Sa’ban. Prosesi ini sekaligus menjadi bukti kekayaan budaya dan tradisi masyarakat yang masih hidup di Kabupaten Malinau.
